Hidup Tanpa Produk Bajakan (1)

2 Dec 2008

Beberapa bulan yang lalu saya jalan-jalan ke mall bersama istriku. Tiba-tiba ia berhenti disebuah toko film DVD bajakan karena tertarik melihat sebuah film drama.. Secara reflek saya langsung menegur istriku.. “Hush, jangan beli DVD bajakan!” kataku.. Istriku menatapku penuh keanehan, “Lagi kesambet apa nih suamiku?”. Dengan sok bijak saya menasehati istriku “Kita harus bisa hidup tanpa produk bajakan, agar hidup kita lebih berkwalitas dan lebih barokah”. “Tapi aku pengen nonton film itu!” kata istriku.. “Ya sewa aja yang asli!” kataku.. “Film baru, masih di bioskop”, katanya. “Ya nonton aja di bioskop” kataku.. Istriku cemberut. Ia tak mengerti kenapa saya tiba-tiba mempunyai sebuah prinsip hidup yang aneh di Indonesia ini yaitu “Hidup tanpa produk bajakan”.

Kalau kita bicara soal produk bajakan, dalam hati kecil kita pasti mengakui ada kemunafikan dan kebohongan yang kita sama-sama tahu tapi tidak pernah dibahas. Misalnya, musisi sering sekali berteriak Anti Bajakan! Tetapi coba lihat di komputernya, lihat koleksi film DVDnya. Apa mereka tidak pernah memakai software bajakan? Apa mereka tidak pernah beli film DVD bajakan? Lalu kenapa mereka setiap mempromosikan album mereka selalu berkata “Jangan beli yang bajakan ya?” Padahal musik yang mereka bikin kebanyakan juga dibikin memakai program komputer atau software-software bajakan.

Banyak orang menulis tulisan atau postingan anti bajakan dikomputernya. Namun apa software yang dipakai untuk mengetik postingan tersebut asli? Banyak designer grafis yang mencantumkan logo anti pembajakan ketika membuat sebuah cover album atau design produk DVD yang di design dengan memakai program software grafis bajakan.

Saya pernah melihat artikel-artikel di sebuah majalah bisnis dimana dalam artikel2 tersebut mereka justru mengajak para pengrajin sprei, boneka dll untuk meningkatkan omzet mereka dengan membuat produk2 yang bergambar karakter2 kartun yang sedang ngetop. Walah, kok majalah bisnis malah menyuruh mencuri ya? Dalam hal ini mencuri hak patent atau hak cipta karya karakter kartun.

Bahkan banyak polisi atau aparat hukum yang menikmati film-film DVD bajakan di rumah bersama keluarganya. Ya, banyak orangtua menonton film DVD bajakan bersama-sama dengan anaknya seolah-olah mereka tidak mengetahui bahwa mereka sedang menikmati hasil dari sebuah pencurian.

Saya pernah bertanya pada seorang polisi, boleh ga seseorang menjual narkoba atau membuka toko khusus produk narkoba di mall? Sang polisi merasa aneh dengan pertanyaan bodoh saya lalu menjawab, ” Ya tidak boleh dong!”.. “kenapa?” tanyaku.. “Karena ya melanggar hukum!” jawab sang polisi. “Lah, pembajakan juga kan melanggar hukum, kok mereka bisa buka toko bajakan di mall? Bedanya apa sama kalau orang buka toko narkoba di mall?” tanyaku.. “Ya, itu beda..” katanya sambil meloyor pergi..

Saya jadi punya kecurigaan bahwa kenapa polisi dan aparat hukum di Indonesia tidak sanggup memberantas pembajakan, yaitu karena salah satu dari kemungkinan berikut: 1. Malas 2. Takut 3. Tidak Sanggup atau 4. Kekenyangan…? Kalau polisi sanggup melarang orang membuka toko narkoba di mall, kenapa polisi tidak sanggup melarang orang membuka toko produk bajakan di mall??

Banyak orang berfikir bahwa pihak yang dirugikan oleh beredarnya produk bajakan adalah para musisi, produser musik, pembuat software, pembuat film atau singkatnya para pemegang Hak Karya Cipta. Jika anda berasumsi seperti itu anda salah besar. Pihak yang juga dirugikan oleh penjualan produk bajakan adalah masyarakat luas terutama rakyat kecil. Tidak percaya? Survey mengatakan ada 200 juta lebih CD music bajakan yang terjual pada tahun 2007. Apabila setiap CD musik yang asli itu mempunyai stiker pajak senilai Rp 2000 rupiah, ini berarti negara kehilangan kurang lebih 400 milyar rupiah pertahun dari Pajak Penjualan. Belum lagi dari software, games, film VCD, DVD. Berapa trilyun negara dirugikan pertahun? Penghasilan pajak sebanyak itu sebenarnya bisa dimanfaat untuk kepentingan rakyat kecil. Selain itu, produk bajakan membuat masyarakat kecil menjadi lebih banyak menghabiskan waktu produktif mereka untuk menikmati produk-produk curian seperti games-games, film2 tidak bermutu yang tentu sangat tidak barokah bagi kehidupan masyarakat kita. Kerugian semacam ini tidak bisa dinilai dengan uang lagi.

Yah, Hidup Tanpa Produk Bajakan memang suatu hal yang sangat berat dilakukan di Indonesia.. Tetapi nanti dulu. Tidak sedikit orang yang sanggup melakukannya. Malah sebenarnya hal ini sangat mudah dijalankan dan sangat menyenangkan. HIDUP TANPA PRODUK BAJAKAN MEMBUAT HIDUP MENJADI LEBIH BERKWALITAS. Kenapa? Karena hidup hanyalah tentang pilhan. Yup, hanya tentang pilhan. Misalnya, mau nonton film bajakan? atau mau nonton bioskop? Ga sanggup bayar karcis, ya sewa saja DVDnya atau nonton tv saja. Acara tv ga mutu, ya sudah, bekerja atau berolahraga saja. Ketika bekerja, mau pake sofware bajakan yang murah tapi ide ga nongol2 atau pake sofware asli yang mahal tapi membuat semangat kerja menggebu-gebu karena tau modal softwarenya tidak murah, sehingga harus segera balik modal? Semua tentang pilihan.

Saya bukan bermaksud menjadi sok suci atau sok idealis. Tetapi saya hanya mencoba sharing kepada para sahabat bahwa hidup tanpa produk bajakan itu lebih menyenangkan. Saya juga dulu mantan penikmat film-film bajakan, software bajakan. Namun setelah saya coba, ternyata tidak sulit dan percaya atau tidak? membuat hidup saya menjadi lebih bermakna, setidaknya bagi saya sendiri.

Tulisan ini bukan cuma mengajak para pembaca untuk hidup tanpa produk bajakan, tetapi juga mengharapkan Kepolisian RI dan segenap aparat hukum di Indonesai mulai serius memberantas pembajakan di negri ini. Hal ini disebabkan produk bajakan bukan cuma merugikan kalangan tertentu saja tetapi justru merusak perekonomian negara dan merusak kwalitas hidup sebagian besar masyarakat Indonesia.

Apa dampak pembajakan pada kwalitas hidup masyarakat? Bagaimana caranya Hidup Tanpa Produk Bajakan? Nantikan postingan berikutnya. :D


TAGS


-

Author

Follow Me